
Teknis Budidaya Jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Agar pertumbuhan jagung lebih optimal tentu selain pemupukan yang idela sangat dibutuhkan tanah gembur, subur, dan kaya akan hamus agar dapat memberi hasil dengan baik. Disamping itu, drainase dan aerasi yang baik serta pengolahan tanah yang baik akan membantu keberhasilan usaha pertanaman jagung. pH tanah 5-6,5 yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal.
PERSIAPAN LAHAN
Pengalaman tanah dilakukan dua minggu sebelum tanam dengan cara dicangkul atau traktor sehingga tanah menjadi gembur. Penanaman benih jagung sebaiknya dilakukan di awal musim penghujan agar memperoleh Pengairan yang cukup. Namun, jika ingin menanamnya dimusim kemarau, pastikan agar pengaturan pengairan Dapat berjalan optimal. Cara penanaman benih jagung dapat dilakukan dengan memasukkan 1-2 benih jagung Dalam lubang tanam tugalan yang telah dibuat. Kemudian, tutup lubang menggunakan pupuk kompos dan beri Pengairan yang cukup. Idealnya, untuk satu hektar lahan membutuhkan benih jagung sekitar 15 kg. Jarak tanam Biasanya 20×75 cm
PERAWATAN
Penyulaman dilakukan 1 minggu setelah tanam untuk mengganti bibit yang tidak tumbuh atau mati. Penyiangan dilakukan setelah tanaman berumur 2 minggu untuk membersihkan gulma supaya tidak menganggu tanaman pokok. Pembersihan gulma bisa secara manual atau menggunakan herbisida. Hama utama pada tanaman jagung meliputi panggerek batang, ulat grayak, penggerek tongkol jagung, lalat bibit dan hama kumbang bubuk. Sedangkan penyakit yang biasa menyerang biasanya bulai, bercak daun, karat daun dan busuk tongkol. Hama dan penyakit yang menyerang bisa dikendalikan dengan pestisida baik hayati maupun sintetis secara tepat.
PEMUPUKAN
Bersamaan dengan pengolahan tanah tebarkan pupuk kandang 10-20 ton dan kapur pertanian 1-2 ton per hektar.
- Pemupukan Pertama : Umur 14 HST dengan dosis Urea 100 kg/ha danNPK 150 kg/ha.
- Pemupukan Kedua : Umur 28 HST dengan dosis urea 50 kg/ha dan NPK 100 kg/ha.
- Pemupukan Ketiga : Umur 45 HST dengan dosis urea sejumlah 50kg/ha dan NPK 50 kg/ha.
- Penyemprotan MU : Dosis 1-2 gr/liter air pada umur 20,40 dan 60 HST atau 7 hari sekali mulai usia 20 HST hingga usia 60 HST
Catatan : Bersamaan dengan Pemupukan NPK majemuk atau Pupuk Tunggal Campurkan Pupuk MU pada pemupukan pertama, kedua dan ketiga masing-masing 1kg. Total Kebutuhan pupuk MU aplikasi tabur bersamaan dengan NPK 3 kg/ha dan aplikasi Penyemprotan MU/ha 1 kg. NPK bisa dikurangi dari dosis rekomendasi 25%. Total Kebutuhan Pupuk MU/ha = 4 Kg sampai panen
PANEN
Tanaman jagung bisa dipanen saat berumur idealnya 55 hingga 100 hari tergantung varietasnya. Metode untuk memanennya adalah dengam cara memutar bagian tongkol hingga terpisah dengan tangkai atau batang jagung, setelah dipanen jagung harus dijemur terlebih dahulu dibawah sinar matahari
JENIS HAMA & PENYAKIT
HAMA:
- Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian : dengan penanaman serentak dan varietas tahan lama. Alternatif terakhir gunakan insektisida atau pestisida kimia - Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian : Tanam serentak atau pergiliran tanaman. Cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah). Semprot dengan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir
PENYAKIT:
- Penyakit Bulai (Downy Mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora Maydis dan P. Javanica serta P. Philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian : Penanaman menjelang atau awal musim penghujan, Pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan, cabut tanaman terserang dan musnahkan dan alternatif terakhir bisa gunakan fungisida seperti altracol dll. - Penyakit Bercak Daun (Leaf Bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: Pergiliran tanaman, gunakan varietas tahan, mengatur kondisi lahan tidak lembab dan alternatif terakhir bisa gunakan fungisida sistemik. - Penyakit Karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia Sorghi Schw dan P. Polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: Mengatur kelembaban, menanam varietas, tahan terhadap penyakit dan Sanitasi kebun - Penyakit Busuk Tongkol dan Busuk Biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam dan gunakan pengendali hayati yang mengandung Trichoderma sp.
Jenis Pupuk yang menggunakan teknologi nano ini telah tersebar secara komersial dan populer di kawasan Eropa, Australia, Japan dan South Afrika
Petunjuk Pemakaian Pupuk MU
Disemprotkan melalui daun, disiramkan atau dibenamkan ke dalam tanah di sekitar perakaran.
Dosis Pupuk MU melalui penyemprotan dengan dosis 1-2 gr per liter air :
- Padi pada umur 15, 45 dan 65 HST
- Jagung pada umur 20, 40 dan 60 HST
- Sayuran setiap 7-10 hari sekali
Dosis Pupuk MU untuk tanaman tahunan aplikasi disiramkan atau dibenamkan ke dalam tanah di sekitar perakaran dengan dosis :
- Umur < 3 tahun : 20-30 gr
- Umur 3-5 tahun : 30-50 gr
- Umur > 5 tahun : 50-75 gr



